Siang Lemas, Sore Kehilangan Fokus? Ini Cara Menjaga Performa Tubuh di Bulan Ramadan

12 Mar 2026 News

Siang Lemas, Sore Kehilangan Fokus? Ini Cara Menjaga Performa Tubuh di Bulan Ramadan

Hari-hari pertama Ramadan sering terasa menantang. Pagi masih cukup bertenaga, tetapi menjelang siang tubuh mulai terasa berat. Sore hari konsentrasi menurun, dan malam tidak lagi seproduktif biasanya. Banyak orang mengira ini semata-mata karena tidak makan dan minum seharian. Padahal, ada faktor lain yang turut berperan.

 

Menurut dr. Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.K.O, dokter spesialis kedokteran olahraga di Seraphim Medical Center, Paramount Gading Serpong, penurunan energi saat puasa memang wajar secara fisiologis. Tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan pola makan, jam tidur, serta ritme aktivitas harian. Namun, performa tetap dapat dijaga jika strategi yang digunakan tepat dan terukur.

 

“Penurunan energi saat puasa adalah bagian dari proses adaptasi tubuh. Yang penting adalah bagaimana kita membantu tubuh beradaptasi. Menjaga performa bukan tentang memaksakan diri, tetapi menjaga kestabilan energi sepanjang hari dengan strategi yang tepat,” jelas dr. Nahum.




 

Sahur sebagai Fondasi Utama

Segala strategi menjaga stamina selama Ramadan dimulai dari satu momen penting, yaitu sahur. Sahur bukan sekadar mengisi perut sebelum berpuasa, tetapi menjadi fondasi energi untuk hampir setengah hari ke depan. Komposisi nutrisi saat sahur berperan besar dalam menentukan bagaimana tubuh bertahan hingga waktu berbuka.

 

Beberapa prinsip penting yang perlu diperhatikan:

  • Karbohidrat kompleks untuk menyediakan energi bertahap dan lebih stabil.
  • Protein cukup untuk membantu mempertahankan massa otot dan mencegah penurunan kekuatan.
  • Lemak sehat untuk memperlambat rasa lapar.
  • Serat untuk menjaga kestabilan gula darah.

 

“Banyak orang hanya fokus kenyang saat sahur, padahal yang lebih penting adalah komposisi nutrisinya. Keseimbangan makronutrien sangat menentukan kualitas energi sepanjang hari,” ujar dr. Nahum.

 

Namun, kebutuhan setiap individu berbeda. Komposisi tubuh, tingkat aktivitas, dan kondisi metabolik sangat mempengaruhi kebutuhan kalori, protein, serta cairan.

 

Di Seraphim Medical Center, pendekatan ini dilakukan melalui pemeriksaan body composition dan metabolic assessment. Dengan data objektif mengenai persentase lemak tubuh, massa otot, serta kebutuhan metabolik, strategi nutrisi dan aktivitas selama Ramadan dapat disusun lebih presisi—bukan sekadar perkiraan umum.

 

“Tanpa data yang objektif, perencanaan seringkali hanya berdasarkan asumsi. Dengan assessment, kita bisa menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan masing-masing individu,” jelas beliau.

 

Pendekatan berbasis data ini membantu memastikan bahwa energi yang tersedia benar-benar sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing individu.


 

Hidrasi: Faktor Kecil dengan Dampak Besar

Selain nutrisi, hidrasi memegang peranan yang sangat penting. Dehidrasi ringan saja sudah cukup untuk menurunkan konsentrasi, memicu sakit kepala ringan, serta mengurangi performa fisik.

 

“Sering kali yang membuat seseorang cepat lelah bukan semata kurang kalori, tetapi kurang cairan. Dehidrasi ringan bisa berdampak signifikan pada fungsi kognitif dan fisik,” ungkap dr. Nahum.

 

Karena itu, strategi hidrasi saat berbuka hingga sahur perlu direncanakan dengan baik, bukan hanya sekadar minum dalam jumlah banyak sekaligus.

 

Dalam kondisi tertentu dan berdasarkan evaluasi medis, terapi seperti IV Drip dapat dipertimbangkan untuk membantu mengoptimalkan keseimbangan cairan dan elektrolit, terutama pada individu dengan aktivitas tinggi atau yang mengalami kelelahan signifikan selama puasa. Tentunya, intervensi ini dilakukan berdasarkan indikasi medis yang jelas dan pengawasan profesional.

 

Recovery: Kunci Menjaga Stamina Hingga Malam

Sering kali orang hanya fokus pada energi, padahal recovery sama pentingnya. Saat tubuh berada dalam kondisi asupan terbatas, proses pemulihan bisa berjalan lebih lambat. Jika tidak dikelola dengan baik, kelelahan akan menumpuk dari hari ke hari.

 

“Tubuh yang tidak diberi waktu dan strategi pemulihan yang tepat akan lebih mudah mengalami penurunan performa. Recovery adalah bagian dari performa itu sendiri,” tegas dr. Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.K.O.

 

Dalam pendekatan sports medicine di Seraphim Medical Center, recovery diposisikan sebagai bagian integral dari strategi performa selama Ramadan.

 

Program latihan di fasilitas medical gym dilakukan secara terukur dan terpantau, dengan pengawasan dokter spesialis kedokteran olahraga serta certified instructor. Intensitas latihan disesuaikan dengan kondisi tubuh yang sedang beradaptasi, sehingga risiko kelelahan berlebih dan cedera dapat ditekan.

 

Pada indikasi tertentu, terapi seperti Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT) dapat dipertimbangkan untuk membantu meningkatkan suplai oksigen ke jaringan tubuh. Optimalisasi oksigenasi ini mendukung proses pemulihan, menjaga kapasitas fisik, dan membantu tubuh tetap stabil hingga malam hari.

 

“Pendekatan medis memungkinkan setiap intervensi dilakukan dengan dasar evaluasi yang jelas, sehingga manfaatnya lebih optimal dan risikonya lebih minimal,” tambah beliau.

 

Selain itu, konsultasi nutrisi berbasis medis juga menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa asupan yang dikonsumsi benar-benar mendukung kestabilan energi dari sahur hingga tarawih.

 

Ramadan Produktif dengan Strategi yang Terukur

Menjalani Ramadan dengan tubuh yang tetap optimal bukan soal memaksakan diri agar sama seperti hari biasa, melainkan tentang memahami kebutuhan tubuh secara lebih presisi. Dengan strategi nutrisi yang tepat, hidrasi terencana, latihan yang disesuaikan, serta recovery berbasis evaluasi medis, performa tetap dapat dijaga sepanjang bulan suci.

 

“Ramadan tetap bisa produktif jika kita memahami kebutuhan tubuh dan merencanakannya dengan baik. Bukan soal kuat atau tidak, tetapi soal strategi,” tutup dr. Nahum.

 

Bersama tim sports medicine di Seraphim Medical Center, Ramadan dapat dijalani secara produktif, terarah, dan aman—dari sahur hingga tarawih, dengan tubuh yang tetap stabil dan performa yang terkontrol.

 

Tentang Seraphim Medical Center

Sebagai salah satu unit bisnis Bethsaida Healthcare, Seraphim Medical Center, yang berlokasi di Paramount Gading Serpong dengan fasilitas unggulan yang modern seperti Cryo Chamber Therapy, TPS, Hyperbaric Oxygen Treatment, PicoWay Laser, Fotona Laser, dan lain sebagainya, menghadirkan pendekatan kesehatan berbasis kedokteran fungsional yang berfokus pada akar permasalahan, bukan sekadar penanganan gejala saja. Seraphim Medical Center mengembangkan layanan medis yang dirancang secara personal untuk membantu tubuh berfungsi lebih optimal, baik dalam menjaga kesehatan, mendukung pemulihan pasca operasi, maupun meningkatkan kualitas hidup. Seraphim Medical Center memiliki layanan unggulan: Wellness Center, Beauty & Aesthetic Center, serta Sports & Rehabilitation Center, yang saling terintegrasi sebagai bagian dari gaya hidup sehat modern.

 

 


 

Kontak Media

 

Peninjau Medis:  dr. Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.K.O

Seraphim Medical Center | @seraphimmedicalcenter
Gading Serpong, Tangerang 

// delete_coo_kie(); ?>