Sulit Fokus dan Daya Ingat Menurun? Waspadai Risiko Demensia Sejak Usia Produktif

18 Feb 2026 Wellbeing

Sulit Fokus dan Daya Ingat Menurun? Waspadai Risiko Demensia Sejak Usia Produktif

 

Di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin kompleks, seperti deadline yang menumpuk, jadwal rapat yang padat, serta notifikasi ponsel yang terus-menerus, tidak sedikit individu usia 30–40 tahun yang mulai mengalami keluhan kognitif, seperti lupa aplikasi yang hendak dibuka, kesulitan mempertahankan fokus saat membaca teks panjang, serta perasaan berpikir lebih lambat atau “lemot” dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini kerap dianggap sebagai konsekuensi kelelahan kerja semata. Padahal, pada sejumlah kasus, gejala-gejala tersebut dapat menjadi tanda awal penurunan fungsi kognitif dan peningkatan risiko demensia yang mulai berkembang sejak usia produktif, serta berpotensi memburuk seiring bertambahnya usia apabila tidak dikenali dan ditangani secara tepat.

 

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mencatat bahwa sekitar 55-57 juta orang di dunia hidup dengan demensia, dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Data ini menegaskan bahwa demensia merupakan tantangan kesehatan global yang serius dan progresif. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan intervensi sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga daya ingat, fokus, serta kejernihan berpikir dalam jangka panjang.

 

Seiring perkembangan teknologi medis, pendekatan non-invasif kini semakin berperan dalam strategi menjaga kesehatan otak. Salah satunya adalah Transcranial Pulse Stimulation (TPS), metode stimulasi otak modern yang dirancang untuk mendukung fungsi kognitif dan konektivitas antar neuron sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan otak secara berkelanjutan.

 

Solusi Non-Invasif untuk Mendukung Kesehatan Otak

Transcranial Pulse Stimulation (TPS) merupakan terapi stimulasi otak non-invasif yang menggunakan gelombang mekanik berenergi rendah dan terfokus untuk menstimulasi area tertentu di otak. Teknologi ini dirancang untuk membantu:

  • Mendukung proses neuroplastisitas otak
  • Meningkatkan aliran darah ke jaringan otak
  • Mendukung fungsi sel saraf yang berperan dalam memori, konsentrasi, dan kemampuan berpikir

 

Berbeda dengan tindakan medis invasif, TPS dilakukan tanpa pembedahan dan umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Pendekatan ini menjadikan TPS relevan tidak hanya bagi individu dengan penurunan fungsi kognitif, tetapi juga sebagai bagian dari strategi brain health bagi mereka yang ingin menjaga performa otak dalam jangka panjang.

 

Menjaga Konektivitas Otak untuk Fungsi Kognitif Lebih Baik

Menurut dr. Febby Astari, IFMCP, praktisi kedokteran fungsional di Seraphim Medical Center, Paramount Gading Serpong, yang bersertifikat IFMCP dari The Institute for Functional Medicine (Washington, Amerika Serikat), penurunan fungsi kognitif tidak hanya berkaitan dengan kerusakan sel saraf, tetapi juga oleh terganggunya komunikasi antar neuron.

 

“Pada kondisi seperti demensia atau penurunan fungsi kognitif, yang terganggu bukan hanya sel sarafnya, tetapi juga komunikasi antar neuron. Transcranial Pulse Stimulation bekerja dengan menstimulasi area otak tertentu untuk membantu meningkatkan konektivitas tersebut, sehingga fungsi kognitif dapat dipertahankan lebih lama,” jelas dr. Febby.

 

Ia menambahkan bahwa layanan TPS tidak hanya ditujukan bagi pasien dengan gangguan kognitif, tetapi juga dapat digunakan sebagai pencegahan penurunan daya ingat hingga demensia.

 

“Pendekatan kedokteran modern saat ini tidak lagi menunggu seseorang sakit berat. TPS dapat menjadi bagian dari program brain health untuk individu usia produktif hingga lanjut usia yang ingin menjaga daya ingat, fokus, dan kejernihan berpikir,” tambahnya.

 

Layanan TPS di Seraphim Medical Center

Melihat potensi besar terapi ini, Seraphim Medical Center menghadirkan layanan Transcranial Pulse Stimulation (TPS) sebagai bagian dari pendekatan medis integratif. Saat ini, layanan TPS masih tergolong teknologi medis yang sangat terbatas ketersediaannya di Indonesia. Seraphim Medical Center menjadi medical center swasta pertama di Indonesia yang menghadirkan layanan ini.

 

Seraphim Medical Center memiliki layanan menyeluruh untuk penanganan demensia, seperti:

  • Layanan TPS
  • Optimalisasi nutrisi
  • Pengaturan gaya hidup sehat
  • Manajemen stres
  • Evaluasi kesehatan metabolik
  • Pendekatan kedokteran fungsional yang personal

 

Pendekatan ini memungkinkan setiap pasien mendapatkan program yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing, dengan tujuan menjaga fungsi otak secara berkelanjutan.

 

“Yang terpenting adalah melihat kesehatan otak secara holistik. Otak yang sehat membutuhkan stimulasi yang tepat, nutrisi yang baik, tidur berkualitas, serta pengelolaan stres. TPS hadir sebagai salah satu layanan kesehatan untuk mendukung proses tersebut,” tutur dr. Febby.

 

Tentang Seraphim Medical Center

Sebagai unit bisnis dari Bethsaida Healthcare, Seraphim Medical Center, yang berlokasi di Paramount Gading Serpong dengan fasilitas unggulan yang modern seperti Cryo Chamber Therapy, TPS, Hyperbaric Oxygen Treatment, PicoWay Laser, Fotona Laser, dan lain sebagainya, menghadirkan pendekatan kesehatan berbasis kedokteran fungsional yang berfokus pada akar permasalahan, bukan sekadar penanganan gejala saja. Seraphim Medical Center mengembangkan layanan medis yang dirancang secara personal untuk membantu tubuh berfungsi lebih optimal, baik dalam menjaga kesehatan, mendukung pemulihan pasca operasi, maupun meningkatkan kualitas hidup. Seraphim Medical Center memiliki tiga layanan unggulan: Wellness Center, Beauty & Aesthetic Center, serta Sports & Rehabilitation Center, yang saling terintegrasi sebagai bagian dari gaya hidup sehat modern.

 

 


 

 

Kontak Media

 

Seraphim Medical Center
Gading Serpong, Tangerang


// delete_coo_kie(); ?>