Bulan puasa kerap membuat banyak orang ragu untuk tetap berolahraga. Kekhawatiran akan tubuh yang terasa lemas, risiko dehidrasi, hingga takut cedera sering menjadi alasan utama menghentikan latihan sementara waktu. Padahal, secara medis, puasa bukanlah kondisi yang otomatis membuat seseorang harus berhenti bergerak.
Menurut dr. Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.K.O., dokter spesialis kedokteran olahraga di Seraphim Medical Center, Paramount Gading Serpong, tubuh manusia memiliki kemampuan adaptasi metabolik yang sangat baik. Saat tidak ada asupan makanan selama beberapa jam, tubuh akan beralih menggunakan cadangan energi seperti glikogen dan lemak untuk mempertahankan fungsi dasar serta aktivitas fisik.
“Yang sering menjadi masalah bukan puasanya, tetapi strategi latihannya. Jika intensitas, durasi, dan waktu tidak disesuaikan, tentu tubuh bisa terasa lebih cepat lelah,” jelas dr. Nahum.
Tubuh tidak langsung kehilangan tenaga hanya karena tidak makan selama beberapa jam. Namun, perubahan pola tidur, hidrasi yang kurang optimal, serta nutrisi yang tidak seimbang saat sahur dan berbuka dapat mempengaruhi performa latihan.
Karena itu, pendekatan yang dianjurkan bukan berhenti olahraga, melainkan melakukan penyesuaian intensitas dan durasi latihan. Latihan ringan hingga sedang dengan kontrol yang baik umumnya lebih aman dibanding mempertahankan beban tinggi seperti di luar bulan puasa.
Dari sisi waktu, menjelang berbuka dapat menjadi pilihan untuk latihan ringan hingga sedang, sehingga tubuh segera mendapatkan asupan cairan setelah sesi selesai. Sementara setelah berbuka, ketika hidrasi dan energi sudah lebih optimal, latihan dapat dilakukan dengan lebih nyaman.
Tidak semua orang dapat langsung kembali ke pola latihan yang sama selama puasa. Setiap individu memiliki komposisi tubuh, kapasitas kardiorespirasi, stabilitas sendi, serta riwayat cedera yang berbeda.
Melalui Sports & Rehabilitation Center di Seraphim Medical Center, tersedia fitness and performance assessment untuk mengetahui baseline kondisi fisik secara objektif. Evaluasi ini mencakup analisis komposisi tubuh, kapasitas kardiorespirasi, hingga kesiapan fisik secara menyeluruh.
“Tanpa mengetahui kondisi dasar tubuh, risiko overtraining dan cedera bisa meningkat, terutama saat energi tubuh lebih terbatas seperti di bulan puasa,” ungkap dr. Nahum.
Selain itu, dilakukan pula Functional Movement Screening (FMS) untuk menilai pola gerak dasar, stabilitas, mobilitas, serta potensi risiko cedera. Hasil evaluasi ini menjadi dasar dalam penyusunan program latihan yang lebih aman dan terarah.
Program latihan dilakukan di fasilitas medical gym dengan pengawasan dokter spesialis kedokteran olahraga dan instruktur tersertifikasi. Pendekatan ini memastikan intensitas dan progresi latihan tetap terkontrol selama Ramadan.
Bagi individu yang membutuhkan latihan dengan beban minimal namun tetap efektif, tersedia pilates dengan instruktur tersertifikasi. Latihan ini membantu meningkatkan stabilitas inti, kontrol otot, fleksibilitas, serta kualitas pernapasan, yang semuanya berperan dalam menjaga efisiensi energi saat puasa.
Tersedia pula sling exercise dengan metode Redcord, yaitu pendekatan latihan berbasis neuromuscular activation yang melatih stabilitas dan aktivasi otot dalam secara lebih spesifik. Metode ini bermanfaat bagi individu dalam fase return to sport maupun mereka yang ingin tetap aktif tanpa memberikan tekanan berlebihan pada sendi dan otot.
Pada akhirnya, puasa bukanlah hambatan untuk menjaga kebugaran, melainkan fase adaptasi yang membutuhkan pendekatan yang tepat. Dengan pengaturan intensitas, pemilihan waktu latihan yang sesuai, serta evaluasi medis yang menyeluruh, olahraga tetap dapat dilakukan secara aman dan efektif selama Ramadan. Melalui pendampingan profesional dan program yang terarah, tubuh tetap aktif, performa tetap terjaga, dan risiko cedera dapat diminimalkan sepanjang bulan suci.
Sebagai salah satu unit bisnis Bethsaida Healthcare, Seraphim Medical Center, yang berlokasi di Paramount Gading Serpong dengan fasilitas unggulan yang modern seperti Cryo Chamber Therapy, TPS, Hyperbaric Oxygen Treatment, PicoWay Laser, Fotona Laser, dan lain sebagainya, menghadirkan pendekatan kesehatan berbasis kedokteran fungsional yang berfokus pada akar permasalahan, bukan sekadar penanganan gejala saja. Seraphim Medical Center mengembangkan layanan medis yang dirancang secara personal untuk membantu tubuh berfungsi lebih optimal, baik dalam menjaga kesehatan, mendukung pemulihan pasca operasi, maupun meningkatkan kualitas hidup. Seraphim Medical Center memiliki layanan unggulan: Wellness Center, Beauty & Aesthetic Center, serta Sports & Rehabilitation Center, yang saling terintegrasi sebagai bagian dari gaya hidup sehat modern.
Peninjau Medis: dr. Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.K.O
Seraphim Medical Center | @seraphimmedicalcenter
Gading Serpong, Tangerang