Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terus berlanjut belakangan ini membuat sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek, terdampak sebaran abu vulkanik. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 6 September 2026, aktivitas Anak Krakatau bahkan menyebabkan sejumlah bandara sempat ditutup sementara akibat sebaran abunya. Imbauan pun bermunculan, mulai dari penggunaan masker, pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa, hingga anjuran mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Namun di tengah gencarnya imbauan soal masker dan pelindung pernapasan, satu hal yang sering luput dari perhatian adalah dampak abu vulkanik terhadap kulit, padahal kulit wajah dan tubuh yang terpapar langsung juga berisiko mengalami gangguan.
Abu vulkanik secara umum dapat menyebabkan iritasi tidak hanya pada saluran pernapasan dan mata, tetapi juga pada kulit. Salah satu alasannya adalah kandungan abu vulkanik yang cukup kompleks, terdiri dari berbagai unsur seperti klorida, sulfat, florida, magnesium, kalium, natrium, dan kalsium. Sejumlah unsur bersifat asam dalam kandungan ini yang dapat memicu terjadinya iritasi ketika bersentuhan langsung dengan permukaan kulit, mulai dari rasa gatal, kemerahan, hingga risiko iritasi yang lebih serius pada kulit yang sensitif.
"Abu vulkanik itu sifatnya cukup kompleks, mengandung berbagai mineral yang sebagian bersifat asam. Kalau menempel di kulit dalam waktu lama tanpa dibersihkan, potensi iritasinya cukup nyata, apalagi bagi yang punya kulit sensitif," jelas dr. Silvia Kartika.
Selain risiko iritasi akibat kandungan asamnya, tekstur abu vulkanik yang berupa partikel halus juga berpotensi menyumbat pori-pori kulit jika menempel dalam waktu lama tanpa dibersihkan dengan tepat, terutama pada area wajah yang lebih sering terekspos udara terbuka. Penyumbatan pori-pori ini yang kerap memicu munculnya jerawat atau bruntusan pada beberapa hari setelah paparan.
Masker memang efektif melindungi saluran pernapasan dari partikel abu vulkanik, namun area kulit yang tidak tertutup masker, seperti dahi, area sekitar mata, hidung bagian atas, hingga leher, tetap berisiko terpapar langsung.
"Masker itu penting, tapi jangan berhenti di situ saja. Area wajah yang tidak tertutup masker, seperti dahi dan sekitar mata, tetap kena paparan langsung. Kacamata dan pakaian lengan panjang bisa jadi pelindung tambahan yang sering dilupakan orang," tambah dr. Silvia Kartika.
Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi kulit selama kondisi udara masih dipengaruhi abu vulkanik:
"Yang sering saya sarankan ke pasien adalah jangan tunda membersihkan wajah setelah beraktivitas di luar saat kondisi udara sedang seperti ini. Semakin lama partikel menempel, semakin besar risiko iritasi atau pori-pori tersumbat," ujar dr. Silvia Kartika.
Bagi kulit yang sudah terlanjur terpapar abu vulkanik dalam durasi cukup lama, terutama pada area wajah yang lebih sensitif dan sulit sepenuhnya terlindungi meski sudah memakai masker, pembersihan menyeluruh menjadi langkah penting untuk mencegah penyumbatan pori-pori berlanjut menjadi masalah kulit yang lebih besar. Salah satu pilihan perawatan yang tersedia di Seraphim Beauty & Aesthetic Center untuk kebutuhan ini adalah Facial by Phyto.
Facial by Phyto merupakan terapi facial wajah yang menggunakan bahan-bahan alami dengan pendekatan energi lima elemen (wood, fire, earth, metal, water). Pendekatan ini dirancang untuk membersihkan kulit secara menyeluruh sekaligus menenangkan kondisi kulit yang mungkin sedang sensitif akibat paparan lingkungan, seperti debu maupun abu vulkanik.
"Setelah kulit terpapar debu atau partikel halus seperti abu vulkanik, langkah pembersihan yang tepat sangat penting untuk mencegah penyumbatan pori-pori dan iritasi berkelanjutan. Facial by Phyto kami pilih karena pendekatannya menggunakan bahan alami, sehingga cocok digunakan pada kondisi kulit yang sedang lebih sensitif dari biasanya," jelas dr. Silvia Kartika.
"Kombinasi pembersihan mendalam dan bahan-bahan alami dalam Facial by Phyto membuat perawatan ini cukup fleksibel, baik sebagai perawatan rutin maupun sebagai langkah pemulihan setelah kulit terpapar kondisi lingkungan yang kurang bersahabat, seperti saat ini," tambah dr. Silvia Kartika.
Meski begitu, dr. Silvia mengingatkan bahwa kulit yang sedang dalam kondisi iritasi aktif (kemerahan, gatal parah, atau luka terbuka akibat garukan) sebaiknya tidak langsung menjalani facial, dan perlu dikonsultasikan lebih dulu untuk memastikan penanganan yang tepat.
"Kalau kulit sedang iritasi berat, sebaiknya ditenangkan dulu kondisinya sebelum menjalani prosedur facial apa pun. Konsultasi terlebih dahulu penting untuk menentukan apakah kondisinya sudah memungkinkan untuk perawatan lanjutan atau perlu penanganan iritasi terlebih dahulu," pungkas dr. Silvia Kartika
Di tengah situasi darurat seperti sebaran abu vulkanik, perhatian memang wajar lebih banyak tertuju pada perlindungan pernapasan dan keselamatan secara umum. Namun, kesehatan kulit tetap layak menjadi bagian dari kewaspadaan, mengingat kulit adalah organ terluar yang paling sering bersentuhan langsung dengan partikel abu di udara.
Bagi Anda yang merasa kulitnya mulai menunjukkan tanda-tanda iritasi, kusam, atau berjerawat usai terpapar abu vulkanik, konsultasikan kondisi kulitmu bersama dr. Silvia Kartika. di Beauty & Aesthetic Center di Seraphim Medical Center untuk mendapatkan rekomendasi perawatan yang tepat, termasuk apakah Facial by Phyto sesuai dengan kondisi kulitmu saat ini.